Arti Kata "dikerkah dia menampar pipi" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "dikerkah dia menampar pipi" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

dikerkah dia menampar pipi

di.ker.kah dia menampar pipi, dibakar dia melilit puntung Peribahasa selalu hendak membalas kepada orang yang berbuat jahat

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "dikerkah dia menampar pipi"

📝 Contoh Penggunaan kata "dikerkah dia menampar pipi" dalam Kalimat

1.Dalam situasi formal, dikerkah dia menampar pipi menggambarkan sifat orang yang mudah marah.
2.Pemimpin politik tersebut dikerkah dia menampar pipi karena selalu menyerang lawannya dengan pukulan verbal.
3.Perilaku anak tersebut dikerkah dia menampar pipi karena terus-menerus membalas dendam kepada temannya.
4.dikerkah dia menampar pipi bukanlah jawaban yang tepat dalam menghadapi konflik, karena akan membuat situasi semakin buruk.
5.Dalam cerita rakyat, pahlawan dikerkah dia menampar pipi karena selalu melawan kejahatan dengan keberanian dan keadilan.

📚 Artikel terkait kata "dikerkah dia menampar pipi"

Mengenal Kata 'dikerkah dia menampar pipi' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "dikerkah dia menampar pipi" - Inspirasi dan Motivasi

Kata "dikerkah dia menampar pipi" adalah salah satu peribahasa yang telah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Peribahasa ini memiliki makna yang sangat dalam dan mengajarkan kita tentang pentingnya membalas kejahatan. Dalam arti resmi, "di.ker.kah dia menampar pipi, dibakar dia melilit puntung" memberikan gambaran tentang sanksi yang akan diterima oleh orang yang berbuat jahat. Peribahasa ini telah ada sejak zaman dahulu kala dan masih digunakan hingga saat ini. Dalam konteks historis, peribahasa ini mungkin digunakan untuk mengajar anak-anak tentang pentingnya membalas kejahatan dan tidak mengampuni orang yang berbuat jahat. Dalam konteks sosial, peribahasa ini masih relevan hingga saat ini, karena mengajarkan kita tentang pentingnya membalas kejahatan dan tidak membiarkan orang yang berbuat jahat lepas begitu saja. Berikut beberapa contoh penggunaan kata "dikerkah dia menampar pipi" dalam kalimat yang alami: * "Dia tidak bisa diampuni karena telah melakukan sesuatu yang sangat tidak terpuji, seperti kata pepatah, dikerkah dia menampar pipi." * "Dia tidak bisa lepas begitu saja karena telah berbuat jahat, seperti kata pepatah, dibakar dia melilit puntung." * "Dia harus membalas kejahatan itu karena itu adalah hukum alam yang ditetapkan oleh Tuhan, seperti kata pepatah, dikerkah dia menampar pipi." Kata "dikerkah dia menampar pipi" masih relevan dalam kehidupan sehari-hari kita. Dalam budaya Indonesia modern, peribahasa ini masih digunakan untuk mengajarkan kita tentang pentingnya membalas kejahatan dan tidak mengampuni orang yang berbuat jahat. Selain itu, peribahasa ini juga mengajarkan kita tentang pentingnya menghormati hukum alam dan tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Dengan demikian, kata "dikerkah dia menampar pipi" tetap menjadi sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari kita. Peribahasa ini mengajarkan kita tentang pentingnya membalas kejahatan dan tidak mengampuni orang yang berbuat jahat, serta pentingnya menghormati hukum alam dan tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan.