Arti Kata "mati puyuh hendakkan ekor" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "mati puyuh hendakkan ekor" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

mati puyuh hendakkan ekor

Peribahasa menghendaki sesuatu yang tidak mungkin tercapai

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "mati puyuh hendakkan ekor"

📝 Contoh Penggunaan kata "mati puyuh hendakkan ekor" dalam Kalimat

1.Pemerintah menghendaki meningkatkan pendapatan masyarakat, tapi mati puyuh hendakkan ekor.
2.Mereka mengaku ingin memulai bisnis, tapi mati puyuh hendakkan ekor karena tidak memiliki modal.
3.Dalam upacara pernikahan, mereka mengucapkan sumpah, tapi mati puyuh hendakkan ekor karena tidak memenuhi syarat.
4.Mereka mengharapkan sukses dalam karir, tapi mati puyuh hendakkan ekor karena kekurangan keterampilan.
5.Prajurit yang berjuang melawan musuh, mati puyuh hendakkan ekor dalam menghadapi kekuatan lawan yang kuat.

📚 Artikel terkait kata "mati puyuh hendakkan ekor"

Mengenal Kata 'mati puyuh hendakkan ekor' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "Mati Puyuh Hendakkan Ekor" - Inspirasi dan Motivasi

Peribahasa "mati puyuh hendakkan ekor" adalah salah satu contoh kiasan yang digunakan dalam bahasa Indonesia untuk menggambarkan keinginan atau harapan yang tidak mungkin tercapai. Makna umum dari kata ini adalah seseorang yang mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, atau seseorang yang memiliki cita-cita yang tidak realistis. Peribahasa ini memiliki asal-usul yang unik. Dalam bahasa Indonesia kuno, "mati puyuh" merujuk pada seekor puyuh yang telah mati, sedangkan "hendakkan" berarti mengharapkan atau menginginkan. Jadi, secara harfiah, "mati puyuh hendakkan ekor" berarti seseorang yang mengharapkan ekor seekor puyuh yang telah mati. Dalam konteks sejarah, peribahasa ini mungkin dipengaruhi oleh kehidupan petani atau nelayan, yang sering menghadapi kesulitan dalam mencari makanan atau sumber daya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengalami situasi di mana kita mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin tercapai. Contohnya, "Ia ingin menjadi presiden, tapi dia tidak memiliki pengalaman politik apa pun. Itu seperti menghendaki ekor seekor puyuh yang telah mati." Atau, "Dia ingin memiliki rumah mewah, tapi dia tidak memiliki uang untuk membelinya. Dia sedang mengalami 'mati puyuh hendakkan ekor'." Dalam budaya Indonesia modern, peribahasa ini masih digunakan sebagai inspirasi dan motivasi untuk menghadapi kegagalan atau kesulitan. Kita diajarkan untuk tidak terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin tercapai, dan untuk lebih fokus pada pencapaian cita-cita yang realistis. Dengan menggunakan peribahasa ini, kita dapat memahami bahwa tidak semua keinginan atau harapan dapat tercapai, dan kita harus siap untuk menghadapi kegagalan atau kesulitan dengan cara yang lebih bijak.