Arti Kata "murat-marit" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "murat-marit" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

murat-marit

mu·rat-ma·rit ? morat-marit

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "murat-marit"

πŸ“ Contoh Penggunaan kata "murat-marit" dalam Kalimat

1.Dalam konteks formal, murat-marit berarti perjanjian atau kesepakatan yang telah disetujui oleh dua pihak atau lebih.
2.Direktur perusahaan tersebut menandatangani murat-marit dengan anak perusahaan lain untuk meningkatkan produksi.
3.murat-marit antara dua negara memiliki dampak besar terhadap hubungan diplomatik dan perdagangan di antara mereka.
4.Pada perayaan pernikahan, pasangan suami istri melakukan murat-marit di hadapan keluarga dan teman-teman.
5.Dalam proses pembuatan undang-undang, murat-marit antara parlemen dan pemerintah sangatlah penting.

πŸ“š Artikel terkait kata "murat-marit"

Mengenal Kata 'murat-marit' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "murat-marit" - Inspirasi dan Motivasi

Kata "murat-marit" seringkali dikaitkan dengan konflik atau perselisihan dalam hubungan asmara. Namun, dalam konteks bahasa Indonesia, "murat-marit" memiliki makna yang lebih luas. Kata ini berasal dari bahasa Arab "muαΈ‘arrib" yang berarti "terpisah" atau "dipisahkan". Dalam konteks sejarah, "murat-marit" merujuk pada peristiwa yang melibatkan perpisahan atau pemisahan antara dua insan yang saling mencintai. Dalam kehidupan sehari-hari, "murat-marit" seringkali digunakan untuk menggambarkan peristiwa yang menimbulkan kesedihan atau kehilangan. Misalnya, "Kita mengalami murat-marit ketika ayah meninggal, dan saya masih belum bisa mengatasi rasa duka yang ada dalam hati." atau "Kita mengalami murat-marit ketika pasangan kita berpisah, dan saya masih belum bisa melupakan rasa sakit yang ada dalam hati." Namun, dalam kehidupan modern, "murat-marit" juga dapat digunakan untuk menggambarkan peristiwa yang menimbulkan kesadaran atau pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri. Misalnya, "Kita mengalami murat-marit ketika kita kehilangan pekerjaan, tapi kita belajar untuk lebih mandiri dan tidak bergantung pada pekerjaan itu." atau "Kita mengalami murat-marit ketika kita kehilangan teman, tapi kita belajar untuk lebih menghargai dan menjaga hubungan dengan orang lain." Dalam konteks budaya Indonesia, "murat-marit" juga dapat digunakan untuk menggambarkan peristiwa yang menimbulkan kesadaran atau pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan. Misalnya, "Kita mengalami murat-marit ketika kita mengalami musibah alam, tapi kita belajar untuk lebih menghargai dan menghormati keindahan alam." atau "Kita mengalami murat-marit ketika kita mengalami perubahan sosial, tapi kita belajar untuk lebih adaptif dan tidak terpisah dari perubahan tersebut." Dalam kesimpulan, "murat-marit" bukan hanya kata yang merujuk pada peristiwa yang menimbulkan kesedihan atau kehilangan, tapi juga dapat digunakan untuk menggambarkan peristiwa yang menimbulkan kesadaran atau pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri dan kehidupan.