Arti Kata "agnostisisme" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "agnostisisme" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

agnostisisme

ag·nos·ti·sis·me n Sos paham yg mempertahankan pendirian bahwa manusia itu kekurangan informasi atau kemampuan rasional untuk membuat pertimbangan tt kebenaran tertinggi

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "agnostisisme"

πŸ“ Contoh Penggunaan kata "agnostisisme" dalam Kalimat

1.Seorang agnostisisme tidak yakin dengan keberadaan Tuhan.
2.agnostisisme merupakan pandangan yang mengatakan bahwa manusia tidak bisa memahami secara penuh tentang aspek spiritual.
3.Banyak tokoh terkenal di dunia sejarah merupakan agnostisisme.
4.Saya memiliki teman yang agnostisisme dan selalu menarik untuk berdiskusi dengannya.
5.agnostisisme seringkali dianggap sebagai bentuk skeptisisme terhadap keyakinan agama.

πŸ“š Artikel terkait kata "agnostisisme"

Pengertian dan Konsep Agnostisisme dalam Konteks Keagamaan

Pengertian Agnostisisme

Agnostisisme merupakan suatu pandangan atau keyakinan yang menyatakan ketidakpastian atau ketidakyakinan terhadap eksistensi Tuhan atau hal-hal spiritual. Dalam agnostisisme, individu cenderung tidak mampu memperoleh pengetahuan yang pasti mengenai hal-hal metafisika seperti Tuhan, kehidupan setelah mati, atau keberadaan roh.

Secara etimologis, kata 'agnostisisme' berasal dari bahasa Yunani 'agnōstos' yang berarti 'tidak dapat diketahui'. Hal ini mencerminkan keyakinan bahwa aspek spiritual atau metafisika tidak dapat diketahui atau dipahami sepenuhnya oleh manusia.

Dalam sejarah, agnostisisme telah menjadi pandangan yang dipegang oleh banyak tokoh terkenal seperti Thomas Huxley, Robert G. Ingersoll, dan Bertrand Russell. Mereka menekankan pentingnya skeptisisme rasional dan penilaian kritis terhadap keyakinan agama yang sering kali dianggap dogmatis.

Di tengah masyarakat yang mayoritas beragama, individu yang mengidentifikasi diri sebagai agnostisisme sering dihadapkan pada tantangan dan stigma. Namun, penting untuk diingat bahwa agnostisisme bukanlah penolakan terhadap spiritualitas, melainkan sebuah sikap kritis dan terbuka terhadap kompleksitas keberagaman keyakinan manusia.

Sementara agnostisisme sering dianggap sebagai posisi netral dalam perdebatan agama, sebagian orang menganggapnya sebagai langkah awal menuju pemahaman yang lebih dalam tentang spiritualitas dan makna kehidupan. Dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan argumen, seorang agnostisisme dapat mengembangkan pemahaman yang lebih inklusif dan toleran terhadap perbedaan keyakinan di masyarakat.