Arti Kata "barang tunanilai" Menurut KBBI
Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "barang tunanilai" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
barang tunanilai
barang konsumsi yang jumlah pembelian dan pemakaiannya berkurang akibat bertambahnya pendapatan konsumen
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "barang tunanilai"
📝 Contoh Penggunaan kata "barang tunanilai" dalam Kalimat
📚 Artikel terkait kata "barang tunanilai"
Mengenal Kata 'barang tunanilai' - Inspirasi dan Motivasi
Mengenal Kata "Barang Tuna Nilai" - Inspirasi dan Motivasi
Barang tunanilai adalah istilah yang sering digunakan dalam ekonomi mikro untuk menggambarkan barang konsumsi yang jumlah pembelian dan pemakaiannya berkurang akibat bertambahnya pendapatan konsumen. Istilah ini berasal dari konsep Teori Konsumsi yang dikembangkan oleh John Maynard Keynes, yang menunjukkan bahwa ketika pendapatan individu meningkat, konsumsi mereka juga meningkat, tetapi tidak secara proporsional. Hal ini berarti bahwa beberapa barang konsumsi akan menjadi kurang penting bagi konsumen ketika mereka memiliki pendapatan lebih tinggi.
Contoh penggunaan kata barang tunanilai dapat dilihat dalam kalimat berikut: "Setelah mendapatkan bonus tahunan, dia mulai membeli lebih banyak pakaian mewah karena itu tidak lagi merupakan **barang tunanilai** baginya." Atau, "Ketika pendapatan keluarganya meningkat, mereka mulai memilih lebih banyak wisata ke luar negeri karena itu bukan lagi **barang tunanilai** bagi mereka." Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa **barang tunanilai** memiliki peran penting dalam menentukan preferensi konsumen terhadap berbagai barang konsumsi.
Ruang lingkup **barang tunanilai** juga dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika beberapa produk makanan menjadi populer di kalangan masyarakat, namun tidak lagi dianggap mewah karena banyak orang yang membelinya, maka itu dapat dianggap sebagai **barang tunanilai**. Dalam budaya Indonesia modern, **barang tunanilai** juga dapat dilihat dalam fenomena konsumen yang lebih suka membeli barang mewah daripada barang yang lebih praktis. Dengan demikian, peran **barang tunanilai** dalam menentukan preferensi konsumen terhadap berbagai barang konsumsi dapat dipahami lebih baik.