Arti Kata "depersonifikasi" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "depersonifikasi" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

depersonifikasi

de·per·so·ni·fi·ka·si /dépersonifikasi/ n Sas majas yg berupa pembandingan manusia dng bukan manusia atau dng benda (msl dikau langit, daku bumi)

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "depersonifikasi"

📝 Contoh Penggunaan kata "depersonifikasi" dalam Kalimat

1.Kata "depersonifikasi" sering digunakan dalam sastra untuk menggambarkan tokoh yang kehilangan identitas manusia dan menjadi objek alam.
2.Guru mengajarkan kepada siswa agar tidak melakukan depersonifikasi dengan menyamakan diri dengan benda-benda alam.
3.Dalam konteks psikologi, depersonifikasi dapat terjadi pada seseorang yang mengalami stres dan kecemasan berlebihan.
4.Dalam puisi "Daku Bumi", penyair menggambarkan dirinya sebagai bumi yang besar dan kuat.
5.Kata "depersonifikasi" juga digunakan dalam psikoterapi untuk mengidentifikasi pola pikir depersonifikasi yang mengganggu keseimbangan mental seseorang.

📚 Artikel terkait kata "depersonifikasi"

Mengenal Kata 'depersonifikasi' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "Depersonifikasi" - Ilmu Bahasa yang Mengasah Imajinasi

Makna Umum dan Konteks Historis

Kata depersonifikasi berasal dari bahasa Latin "depersonificare" yang berarti "menghilangkan kepribadian". Dalam ilmu bahasa, depersonifikasi adalah teknik sastra yang digunakan untuk menggambarkan orang atau benda dengan cara membuatnya kehilangan kepribadian. Dalam sejarah, teknik ini digunakan oleh para penulis untuk menciptakan efek yang lebih dramatis dalam karya sastranya.

Contoh Penggunaan Kata Depersonifikasi

Teknik depersonifikasi ini dapat dilihat dalam beberapa contoh kalimat yang alami. Misalnya, dalam puisi "Dukun dan Dayang" karya Chairil Anwar, penulis menggunakan teknik depersonifikasi untuk menggambarkan dukun sebagai "seorang naga yang sedang menunggu musim hujan". Dalam kalimat ini, dukun kehilangan kepribadian dan digambarkan sebagai makhluk mitos yang lebih kuat. Contoh lainnya adalah dalam novel "Ayah" karya Pramoedya Ananta Toer, penulis menggunakan teknik depersonifikasi untuk menggambarkan ayah sebagai "sebuah bukit yang luas dan indah".

Relevansi Kata Depersonifikasi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dalam kehidupan sehari-hari, teknik depersonifikasi ini masih digunakan dalam berbagai bidang, seperti sastra, film, dan bahkan iklan. Dalam iklan, misalnya, perusahaan dapat menggunakan teknik depersonifikasi untuk menggambarkan produk mereka sebagai "seorang kekasih yang setia" atau "sebuah keajaiban yang tidak dapat dijabarkan". Dalam konteks ini, teknik depersonifikasi digunakan untuk menciptakan efek yang lebih dramatis dan menarik perhatian konsumen.