Arti Kata "kalbi" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "kalbi" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

kalbi

kal·bi a berhubungan dng kalbu

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "kalbi"

📝 Contoh Penggunaan kata "kalbi" dalam Kalimat

1.Berikut adalah lima contoh kalimat dalam bahasa Indonesia yang menggunakan kata "kalbi":
2.kalbi adalah konsep filosofis yang menekankan hubungan antara akal dan hati.
3.Dalam percakapan sehari-hari, teman saya mengatakan bahwa kalbi-nya sedang tidak seimbang, jadi dia merasa tidak bahagia.
4.Dalam buku sastra, penulis menggambarkan tokoh utamanya sebagai seseorang yang memiliki kalbi yang kuat, sehingga dia dapat menghadapi kesulitan hidup.
5.Pengajar memberikan contoh kalbi-nya yang tidak seimbang ketika dia harus membuat keputusan penting, sehingga dia mengalami keputusasaan.

📚 Artikel terkait kata "kalbi"

Mengenal Kata 'kalbi' - Inspirasi dan Motivasi

Kalbi: Dari Nafsu Hati

Kalbi adalah istilah yang berasal dari bahasa Arab, yaitu 'kalbu' yang berarti 'hati'. Dalam konteks historis, kalbi merujuk pada nafsu atau keinginan hati yang tak terpuaskan. Dalam beberapa literatur, kalbi juga disebut sebagai 'nafsu syahwat', yaitu keinginan yang menggerakkan seseorang untuk melakukan perbuatan yang tidak seharusnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kata kalbi digunakan dalam kalimat yang alami. Misalnya, "Dia telah melakukan kesalahan karena nafsu kalbi yang tidak terkendali". Atau "Dia harus mengontrol nafsu kalbi agar tidak melakukan perbuatan yang tidak pantas". Dengan demikian, kalbi menjadi istilah yang relevan dalam konteks moral dan agama. Dalam budaya Indonesia modern, konsep kalbi masih sangat relevan. Masyarakat kita seringkali dihadapkan pada nafsu kalbi yang tidak terkendali, seperti keinginan untuk memiliki barang-barang yang mewah atau melakukan perbuatan yang tidak pantas. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali dan mengendalikan nafsu kalbi kita agar tidak mengganggu kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita dapat hidup lebih sejahtera dan bahagia.