Arti Kata "konstatir" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "konstatir" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

konstatir

kon·sta·tir v, me·ngon·sta·tir v memberi pernyataan tt adanya suatu gejala; mengambil kesimpulan (berdasarkan bukti atau gejala yg nyata)

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "konstatir"

📝 Contoh Penggunaan kata "konstatir" dalam Kalimat

1.Setelah melakukan observasi, dokter menyatakan bahwa pasien mengidap penyakit ginjal.
2.Dalam penelitian ini, peneliti mengkonstatir adanya hubungan antara polusi udara dan peningkatan kasus penyakit paru-paru.
3.Saya mengkonstatir bahwa pelajaran matematika hari ini memang sangat sulit untuk dipahami oleh siswa.
4.Dalam buku sejarah, penulis mengkonstatir bahwa peristiwa perang dunia II memiliki dampak besar terhadap perubahan politik dunia.
5.Ketika mengunjungi desa tersebut, saya mengkonstatir bahwa tingkat kemiskinan di daerah tersebut sangatlah tinggi.

📚 Artikel terkait kata "konstatir"

Mengenal Kata 'konstatir' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "Konstatir" - Mengambil Kesimpulan dengan Bijak

Kata "konstatir" adalah kata yang berasal dari bahasa Belanda, yaitu "constateren", yang berarti memberi pernyataan tentang adanya suatu gejala atau mengambil kesimpulan berdasarkan bukti atau gejala yang nyata. Dalam konteks historis, kata ini dipengaruhi oleh pendudukan Belanda di Indonesia dan digunakan dalam bahasa Indonesia sebagai bagian dari perluasan kosakata. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata "konstatir" untuk mengungkapkan kesimpulan atau keyakinan kita tentang suatu hal. Misalnya, ketika kita melihat seseorang yang terlalu sering berbohong, kita bisa mengatakan: "Saya sudah konstatir bahwa dia tidak bisa dipercaya." Atau, ketika kita melihat gejala-gejala yang menunjukkan ada masalah di sebuah perusahaan, kita bisa mengatakan: "Saya sudah konstatir bahwa perusahaan tersebut sedang mengalami kesulitan keuangan." Kata "konstatir" juga memiliki relevansi dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bidang akademis atau profesional. Sebagai contoh, ketika kita melakukan penelitian dan menemukan bukti-bukti yang mendukung teori kita, kita bisa mengatakan: "Saya sudah konstatir bahwa teori ini benar." Atau, ketika kita melihat seseorang yang memiliki kemampuan atau kebiasaan yang menonjol, kita bisa mengatakan: "Saya sudah konstatir bahwa dia memiliki talenta yang luar biasa." Dalam budaya Indonesia modern, kata "konstatir" juga digunakan dalam berbagai konteks, seperti dalam perdebatan atau diskusi online. Ketika seseorang berusaha untuk membuktikan kebenaran dari suatu klaim, kita bisa mengatakan: "Konstatir bahwa dia tidak memiliki bukti yang cukup untuk mendukung argumennya." Dengan demikian, kata "konstatir" menjadi bagian dari perbendaharaan kata-kata kita dalam berkomunikasi dan berargumentasi.