Arti Kata "kranapaksa" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "kranapaksa" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

kranapaksa

kra·na·pak·sa n bagian paruh kedua dr satu bulan, yaitu paruh gelap dl sistem penanggalan Jawa Kuno

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "kranapaksa"

📝 Contoh Penggunaan kata "kranapaksa" dalam Kalimat

1.Dalam sistem penanggalan Jawa Kuno, kranapaksa merupakan bagian penting yang menunjukkan paruh gelap bulan.
2.kranapaksa dianggap sebagai masa yang tidak baik dalam kepercayaan Jawa Kuno, sehingga banyak kegiatan yang dihindari.
3.Dalam kalender Jawa, kranapapaksa menandai awal dari masa hukuman bagi orang yang telah melanggar aturan.
4.Pada masa penjajahan, pemerintah kolonial sering menggunakan istilah "kranapaksa" untuk menggambarkan masa-masa sulit dan keterbatasan.
5.Dalam tradisi Jawa, kranapaksa dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melakukan renungan dan introspeksi diri.

📚 Artikel terkait kata "kranapaksa"

Mengenal Kata 'kranapaksa' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "kranapaksa" - Bagian Paruh Kedua Bulan dalam Sistem Penanggalan Jawa Kuno

Dalam bahasa Jawa Kuno, kranapaksa merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan bagian paruh kedua dari satu bulan. Sistem penanggalan Jawa Kuno ini masih memiliki pengaruh hingga saat ini, terutama dalam kalender Jawa. Kranapaksa sendiri berarti paruh gelap dalam sistem penanggalan tersebut. Paruh gelap, atau kranapaksa, ditandai dengan adanya bulan purnama atau setengah purnama. Pada masa lalu, kranapaksa memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Jawa, terutama dalam hal agama dan tradisi. Masyarakat Jawa percaya bahwa kranapaksa memiliki energi spiritual yang tinggi, sehingga sering digunakan sebagai acuan untuk melakukan ritual dan upacara. Kranapaksa juga sering digunakan dalam kalimat yang alami, seperti: "Pada kranapaksa ini, saya akan melakukan ritual untuk memohon berkah kepada Tuhan." atau "Saya sedang menunggu kranapaksa untuk melakukan perjalanan ke tempat wisata." Kranapaksa juga dapat digunakan dalam konteks yang lebih umum, seperti: "Kranapaksa adalah waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri dan memulai perubahan positif." Dalam kehidupan sehari-hari, kranapaksa masih memiliki relevansi dengan tradisi dan budaya Jawa. Banyak masyarakat Jawa yang masih mempercayai bahwa kranapaksa memiliki energi yang positif dan dapat digunakan untuk memulai perubahan positif dalam kehidupan. Kranapaksa juga sering digunakan sebagai acuan untuk melakukan aktivitas yang terkait dengan alam, seperti pertanian dan kehutanan.