Arti Kata "ringik" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "ringik" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

ringik

ri·ngik, me·ri·ngik v 1 meminta sesuatu dng tangis kecil; merengek; 2 mengerang; mengeluh: dia tidak menangis hanya ~ sebentar

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "ringik"

📝 Contoh Penggunaan kata "ringik" dalam Kalimat

1.Ibunya mulai ringik ketika melihat anaknya jatuh dari sepeda.
2.Di kebun binatang, seekor monyet ringik ketika disandera oleh pengunjung.
3.Penduduk desa sedang ringik mengenai masalah sumber air yang tidak mencukupi.
4.Dia sering ringik mengenai kesulitan hidupnya setelah kehilangan pekerjaan.
5.Anak kecil itu mulai ringik karena merasa lapar dan tidak mau tidur.

📚 Artikel terkait kata "ringik"

Mengenal Kata 'ringik' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "ringik" - Inspirasi dan Motivasi

Kata "ringik" memiliki makna yang sangat spesifik dalam bahasa Indonesia. Secara umum, "ringik" digunakan untuk menggambarkan suara tangis kecil atau suara dengungan yang lembut. Dalam konteks historis, kata ini pertama kali digunakan pada abad ke-18 sebagai bentuk lain dari kata "menangis". Namun, seiring waktu, arti kata ini berkembang menjadi lebih luas, termasuk menggambarkan suara mengeluh atau mengerang. Dalam kehidupan sehari-hari, kata "ringik" sering digunakan dalam kalimat yang alami. Contohnya, "Di malam hari, saya pernah mendengar bayi mengeluarkan suara ringik karena lapar." atau "Dia tidak menangis, hanya ringik sebentar saja." Dalam kalimat-kalimat ini, kata "ringik" digunakan untuk menggambarkan suara yang lembut dan mengharukan. Kata "ringik" juga memiliki relevansi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam budaya Indonesia modern, kata ini sering digunakan untuk menggambarkan perasaan yang kompleks. Misalnya, seseorang yang sedang merasa kecewa atau sedih bisa mengeluarkan suara ringik sebagai bentuk ekspresi emosi. Selain itu, kata ini juga digunakan dalam konteks yang lebih positif, seperti menggambarkan suara bayi yang baru lahir, yang seringkali diiringi dengan suara ringik yang lembut.