Arti Kata "sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak

Peribahasa segala sesuatu ada batasnya

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak"

📝 Contoh Penggunaan kata "sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak" dalam Kalimat

1.Segala sesuatu ada batasnya, jangan terlalu memaksakan diri.
2.Dalam hidup ini, setiap orang memiliki batas yang harus dihormati.
3.Pemimpin yang bijak tahu bahwa ada batas antara kekuasaan dan keadilan.
4.Jangan terlalu sering meminta bantuan, karena ada batas yang harus kita jalani sendiri.
5.Dalam pelajaran matematika, setiap konsep memiliki batas yang harus dipahami.

📚 Artikel terkait kata "sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak"

Mengenal Kata 'sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "Sawah Berpematang (Berpiring) Ladang Berbintalak" - Inspirasi dan Motivasi

Kata "sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak" adalah peribahasa yang telah ada sejak lama dalam bahasa Indonesia. Peribahasa ini memiliki makna umum yang menjelaskan bahwa segala sesuatu memiliki batasan, baik itu ruang, waktu, atau kualitas. Dalam konteks sejarah, peribahasa ini muncul pada masa kolonial Belanda, ketika sawah dan ladang menjadi sumber pendapatan utama bagi masyarakat pedesaan. Peribahasa ini digunakan untuk mengingatkan bahwa setiap orang harus mengetahui batasan dan tidak boleh melanggarnya. Peribahasa "sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak" dapat digunakan dalam kalimat yang alami, seperti: "Dia terlalu bangga dengan kekayaannya, lupa bahwa **sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak**, tidak ada yang tidak terbatas." Atau, "Dia ingin menjadiCEO perusahaan besar, tapi harus ingat bahwa **sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak**, tidak ada yang dapat mencapai puncak yang tidak terjangkau." Peribahasa ini juga dapat digunakan untuk mengingatkan bahwa setiap orang harus mengetahui batasan dirinya sendiri dan tidak boleh melanggarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, peribahasa "sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak" masih relevan dan dapat digunakan sebagai inspirasi untuk mengingatkan bahwa setiap orang harus mengetahui batasan dan tidak boleh melanggarnya. Peribahasa ini dapat digunakan dalam konteks yang berbeda-beda, seperti dalam bisnis, pendidikan, atau bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami peribahasa ini, kita dapat menjadi lebih bijak dan tidak melanggar batasan yang ada.