Arti Kata "subyektivisme" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "subyektivisme" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

subyektivisme

sub·yek·ti·vis·me /subyéktivisme/ ? subjektivisme

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "subyektivisme"

📝 Contoh Penggunaan kata "subyektivisme" dalam Kalimat

1.Dalam filosofi, subyektivisme mengatakan bahwa kebenaran hanya ada dalam persepsi seseorang.
2.subyektivisme dalam psikologi menyebutkan bahwa setiap individu memiliki pengalaman subjektif yang unik.
3.Pengaruh subyektivisme dapat dilihat dalam karya-karya sastra yang menekankan emosi dan perasaan.
4.Dalam pendidikan, subyektivisme dapat menyebabkan kesulitan dalam mengukur kemampuan siswa secara objektif.
5.subyektivisme dalam politik dapat menyebabkan konflik karena pendapat dan persepsi yang berbeda-beda.

📚 Artikel terkait kata "subyektivisme"

Mengenal Kata 'subyektivisme' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "subyektivisme" - Inspirasi dan Motivasi

Makna Umum dan Konteks Historis

Subyektivisme adalah konsep filsafat yang menekankan pentingnya pengalaman subjektif individu dalam memahami dunia. Konsep ini muncul pada abad ke-19 sebagai reaksi terhadap objektivisme, yang berfokus pada pengetahuan ilmiah yang dapat dipercaya dan objektif. Pemikir seperti Kant dan Nietzsche memainkan peran penting dalam pengembangan subyektivisme, yang menekankan bahwa kebenaran dapat ditemukan dalam pengalaman subjektif individu.

Penggunaan Kata "subyektivisme" dalam Kalimat

Penggunaan kata "subyektivisme" dapat dilihat dalam kalimat-kalimat berikut: Dalam konteks politik, subyektivisme dapat berakibat pada keputusan-keputusan yang terlalu subjektif dan tidak berdasarkan pada fakta-fakta. Namun, dalam konteks seni, subyektivisme dapat memberikan ruang bagi kreativitas dan ekspresi individu. Dalam psikologi, subyektivisme dapat membantu individu memahami emosi dan pikiran mereka sendiri.

Relevansi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dalam kehidupan sehari-hari, subyektivisme dapat berdampak pada berbagai aspek. Dalam komunikasi, subyektivisme dapat menyebabkan kesalahpahaman karena setiap orang memiliki pengalaman dan penafsiran yang berbeda. Dalam budaya modern Indonesia, subyektivisme dapat terlihat dalam penggunaan media sosial, di mana setiap individu dapat berbagi dan menerima informasi yang subjektif. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan menghargai perbedaan pandangan dan pengalaman subjektif individu dalam kehidupan sehari-hari.