Arti Kata "biduk tiris menanti karam" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "biduk tiris menanti karam" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

biduk tiris menanti karam

Peribahasa sudah tidak tertolong lagi

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "biduk tiris menanti karam"

📝 Contoh Penggunaan kata "biduk tiris menanti karam" dalam Kalimat

1.biduk tiris menanti karam, nasib kota yang terus diperas.
2.Kondisi ekonomi negara sudah tidak tertolong lagi.
3.Perusahaan yang gagal itu sudah tidak tertolong lagi, waktu untuk melihat kematiannya telah tiba.
4.Di tengah krisis, rakyat sudah tidak tertolong lagi oleh pemerintah.
5.Saat bencana alam, sudah tidak tertolong lagi, semuanya akan hancur.

📚 Artikel terkait kata "biduk tiris menanti karam"

Mengenal Kata 'biduk tiris menanti karam' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "biduk tiris menanti karam" - Inspirasi dan Motivasi

Kata "biduk tiris menanti karam" merupakan salah satu peribahasa yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Peribahasa ini memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu **sudah tidak tertolong lagi**. Dalam konteks sejarah, peribahasa ini muncul di masa lalu, ketika biduk adalah salah satu alat transportasi yang digunakan oleh masyarakat nelayan. Biduk yang tiris berarti telah rusak atau tidak dapat digunakan lagi, sehingga menanti karam berarti sudah tidak dapat diselamatkan. Dalam kehidupan sehari-hari, kata "biduk tiris menanti karam" sering digunakan untuk menggambarkan situasi yang sulit dan tidak dapat diperbaiki lagi. Contohnya, "Kondisi ekonomi negara sudah biduk tiris menanti karam, sehingga pemerintah harus mencari solusi yang efektif untuk mengatasi masalah ini." Atau, "Saya sudah biduk tiris menanti karam, tidak ada yang bisa saya lakukan untuk menghentikan proyek ini." Peribahasa "biduk tiris menanti karam" juga memiliki relevansi yang sangat tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam budaya Indonesia modern, kata ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi yang sulit dan tidak dapat diperbaiki lagi. Contohnya, ketika seseorang mengalami kegagalan dalam bisnis atau pekerjaannya, mereka mungkin akan mengatakan bahwa situasinya sudah **biduk tiris menanti karam**. Dalam hal ini, kata ini digunakan untuk menggambarkan bahwa situasi tersebut sudah tidak dapat diperbaiki lagi, sehingga perlu dicari solusi yang baru.