Arti Kata "cencang putus tiang tumbuk" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "cencang putus tiang tumbuk" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

cencang putus tiang tumbuk

Peribahasa putusan yang mengikat

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "cencang putus tiang tumbuk"

📝 Contoh Penggunaan kata "cencang putus tiang tumbuk" dalam Kalimat

1.Putusan itu sangat cencang putus tiang tumbuk, tidak ada ruang untuk protes.
2.Pengadilan menetapkan putusan cencang putus tiang tumbuk, hukum harus dihormati.
3.Ia tidak bisa menolak tugas yang sudah cencang putus tiang tumbuk, harus diselesaikan.
4.Pada konferensi, ia menjelaskan bahwa keputusan sudah cencang putus tiang tumbuk, tidak bisa diubah.
5.Pada saatnya, keputusan itu harus cencang putus tiang tumbuk, tanpa cela atau keraguan.

📚 Artikel terkait kata "cencang putus tiang tumbuk"

Mengenal Kata 'cencang putus tiang tumbuk' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "Cencang Putus Tiang Tumbuk" - Inspirasi dan Motivasi

Kata "cencang putus tiang tumbuk" adalah salah satu peribahasa yang sudah terkenal dalam bahasa Indonesia. Dalam arti resmi, peribahasa ini memiliki makna yang sangat spesifik, yaitu putusan yang mengikat. Kata ini sering digunakan dalam konteks hukum, politik, dan bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sejarah, kata "cencang putus tiang tumbuk" berasal dari kebiasaan masyarakat pedesaan di Jawa. Di masa lalu, ketika seseorang melakukan kesalahan atau melanggar hukum, dia akan dipaksa untuk menyerahkan harta benda atau anak-anaknya sebagai bentuk hukuman. Jika dia menolak, maka dia akan dipukul dengan tiang yang kuat hingga putus. Dalam konteks ini, "cencang putus" berarti putusnya hubungan antara orang yang bersalah dengan masyarakat, sedangkan "tiang tumbuk" berarti hukuman yang diberikan.

Contoh Penggunaan

Dalam kehidupan sehari-hari, kata "cencang putus tiang tumbuk" sering digunakan dalam berbagai konteks. Berikut adalah beberapa contoh penggunaan kata ini dalam kalimat yang alami: * "Pemerintah harus membuat keputusan yang bijak agar tidak terjadi kerugian besar bagi rakyat, karena cencang putus tiang tumbuk tidak akan menguntungkan siapa pun." * "Saya tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh bos saya, karena itu adalah putusan yang mengikat dan tidak bisa diubah." * "Kita harus membuat keputusan yang tepat agar tidak terjadi cencang putus tiang tumbuk dengan pasukan lawan."

Relevansi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Kata "cencang putus tiang tumbuk" masih relevan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks hukum dan politik. Dalam beberapa tahun terakhir, kata ini sering digunakan untuk menggambarkan keputusan yang tidak bisa diubah atau diubah kembali. Dalam budaya Indonesia modern, kata ini juga digunakan sebagai motivasi untuk membuat keputusan yang bijak dan tidak menguntungkan siapa pun.