Arti Kata "dp hidup bercermin bangkai lebih baik mati berkalang tanah" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "dp hidup bercermin bangkai lebih baik mati berkalang tanah" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

dp hidup bercermin bangkai lebih baik mati berkalang tanah

Peribahasa daripada menanggung malu lebih baik mati

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "dp hidup bercermin bangkai lebih baik mati berkalang tanah"

📝 Contoh Penggunaan kata "dp hidup bercermin bangkai lebih baik mati berkalang tanah" dalam Kalimat

1.Daripada menanggung malu lebih baik mati, dia memilih meninggalkan pekerjaannya itu.
2.Dia lebih baik meninggalkan pekerjaannya daripada terus menanggung kekalahan yang menghantui.
3.Dalam sejarah, lebih baik mati daripada menanggung kekalahan yang merugikan negara.
4.Sebagai seorang yang berintegritas, dia lebih baik mati daripada menanggung kesalahan yang tidak pantas.
5.Dia lebih baik meninggalkan jabatannya daripada menanggung skandal yang menghancurkan nama baiknya.

📚 Artikel terkait kata "dp hidup bercermin bangkai lebih baik mati berkalang tanah"

Mengenal Kata 'dp hidup bercermin bangkai lebih baik mati berkalang tanah' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "DP Hidup Bercermin Bangkai Lebih Baik Mati Berkalang Tanah" - Inspirasi dan Motivasi

Kata "DP Hidup Bercermin Bangkai Lebih Baik Mati Berkalang Tanah" adalah salah satu peribahasa yang terkenal di Indonesia. Peribahasa ini berarti bahwa daripada menanggung malu lebih baik mati. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi di mana seseorang lebih baik meninggalkan segala sesuatu daripada terus menanggung malu atau kesulitan. Peribahasa ini memiliki konteks historis yang unik. Pada masa lalu, bangkai yang dibiarkan berkalang tanah dianggap sebagai lambang kemalangan dan kegagalan. Namun, dengan adanya peribahasa ini, bangkai tersebut digambarkan sebagai pilihan yang lebih baik daripada menanggung malu. Ini menunjukkan bahwa pada awalnya, masyarakat Indonesia lebih memilih meninggalkan segala sesuatu daripada terus menanggung kesulitan. Berikut beberapa contoh penggunaan kata "DP Hidup Bercermin Bangkai Lebih Baik Mati Berkalang Tanah" dalam kalimat yang alami: - "Daripada menanggung rasa malu, aku lebih baik meninggalkan pekerjaan ini dan mencari pekerjaan lain." - "Dia lebih baik meninggalkan hubungannya daripada terus menanggung penderitaan." - "Aku lebih baik meninggalkan kota ini daripada terus menanggung kesulitan dalam mencari pekerjaan." Dalam kehidupan sehari-hari, kata "DP Hidup Bercermin Bangkai Lebih Baik Mati Berkalang Tanah" masih relevan. Masyarakat Indonesia masih sering menghadapi situasi di mana mereka harus memilih antara menanggung malu atau meninggalkan segala sesuatu. Peribahasa ini dapat menjadi inspirasi bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan dalam hidup.