Arti Kata "oligofrenia" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "oligofrenia" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

oligofrenia

oli·go·fre·nia /oligofrénia/ n Psi perkembangan kecerdasan yg sangat lamban; lemah ingatan

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "oligofrenia"

📝 Contoh Penggunaan kata "oligofrenia" dalam Kalimat

1.Diagnosis dokter menunjukkan bahwa anak itu menderita oligofrenia, sehingga memerlukan perawatan yang intensif.
2.Pengembangan program pembelajaran khusus untuk anak-anak dengan oligofrenia memerlukan kerja sama tim yang komprehensif.
3.Banyak orang tua yang khawatir karena anak mereka menderita oligofrenia dan tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.
4.Para peneliti masih mencari solusi efektif untuk mengobati oligofrenia, tetapi telah menemukan beberapa proses yang dapat membantu.
5.Dokter spesialis anak mengatakan bahwa oligofrenia dapat diobati dengan terapi yang tepat dan perawatan yang berkualitas.

📚 Artikel terkait kata "oligofrenia"

Mengenal Kata 'oligofrenia' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "Oligofrenia" - Inspirasi dan Motivasi

Oligofrenia adalah istilah yang digunakan dalam psikologi untuk menggambarkan kondisi perkembangan kecerdasan seseorang yang sangat lambat. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu "oligos" yang berarti "sedikit" dan "phren" yang berarti "otak". Dalam konteks historis, oligofrenia pertama kali digunakan pada abad ke-19 untuk menggambarkan kondisi anak-anak yang memiliki kecerdasan yang sangat rendah. Dalam kehidupan sehari-hari, oligofrenia dapat dilihat dalam berbagai konteks. Perkembangan kecerdasan seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan, dan pengasuhan. Dengan demikian, oligofrenia dapat dilihat sebagai hasil dari interaksi antara faktor-faktor ini. Contoh penggunaan kata oligofrenia dalam kalimat yang alami adalah: "Anak itu memiliki kecerdasan yang sangat rendah karena kondisi oligofrenia yang dialaminya sejak lahir." Dalam budaya Indonesia modern, oligofrenia tetaplah menjadi topik yang perlu dipahami dan diterima. Banyak orang yang memiliki keterbelakangan mental, tetapi dengan pendidikan dan perlakuan yang tepat, mereka dapat berkembang dan meningkatkan kecerdasan mereka. Dengan demikian, oligofrenia bukanlah kata yang negatif, tetapi juga merupakan kesempatan bagi kita untuk meningkatkan kemampuan kita dan membantu orang lain yang membutuhkan. Oligofrenia bukanlah hal yang harus ditakutkan, tetapi juga merupakan kesempatan bagi kita untuk belajar dan berkembang bersama. Dengan memahami dan menerima kondisi oligofrenia, kita dapat meningkatkan kecerdasan kita dan membantu orang lain yang membutuhkan.