Arti Kata "sudah arang-arang hendak minyak pula" Menurut KBBI

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "sudah arang-arang hendak minyak pula" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

sudah arang-arang hendak minyak pula

Peribahasa sesudah dicemarkan nama seseorang, hendak bermanis-manis pula kepada orang itu

Bantuan Penjelasan Simbol
a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat
v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja
n Merupakan Bentuk Kata benda
ki Merupakan Bentuk Kata kiasan
pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya
cak Bentuk kata percakapan (tidak baku)
ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan
adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain
-- Pengganti kata "sudah arang-arang hendak minyak pula"

📝 Contoh Penggunaan kata "sudah arang-arang hendak minyak pula" dalam Kalimat

1.Setelah dituduh melanggar hukum, sudah arang-arang hendak minyak pula dengan berbagai alasan.
2.Perdana Menteri yang terlibat skandal korupsi sudah arang-arang hendak minyak pula dengan menuduh lawan politiknya.
3.Dalam drama itu, pelaku sudah arang-arang hendak minyak pula dengan berbohong kepada korban.
4.Sang atlet sudah arang-arang hendak minyak pula dengan menuduh wasit yang memberikan kartu merah.
5.Setelah melukai temannya, anak itu sudah arang-arang hendak minyak pula dengan menangis dan meminta maaf.

📚 Artikel terkait kata "sudah arang-arang hendak minyak pula"

Mengenal Kata 'sudah arang-arang hendak minyak pula' - Inspirasi dan Motivasi

Mengenal Kata "sudah arang-arang hendak minyak pula" - Inspirasi dan Motivasi

Peribahasa "sudah arang-arang hendak minyak pula" adalah salah satu ungkapan yang sudah tidak asing lagi dalam bahasa Indonesia. Ungkapan ini memiliki makna yang sangat dalam dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Peribahasa ini menggambarkan keadaan seseorang yang setelah mencemarkan nama orang lain, langsung berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan orang tersebut dengan cara yang kurang alami. Dalam konteks sejarah, peribahasa "sudah arang-arang hendak minyak pula" berasal dari masa lalu, ketika arang dan minyak masih merupakan bahan bakar yang sangat berharga. Arang digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak dan keperluan lainnya, sedangkan minyak digunakan sebagai bahan bakar untuk lampu dan keperluan lainnya. Dalam situasi tertentu, seseorang yang mencemarkan nama orang lain akan berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan cara memberikan minyak kepadanya, tetapi setelah itu, mereka akan mencemarkan namanya lagi dengan cara lain, sehingga keadaan menjadi seperti arang yang masih terbakar tetapi tidak ada minyak untuk memadamkannya. Berikut beberapa contoh penggunaan kata "sudah arang-arang hendak minyak pula" dalam kalimat yang alami: "Setelah mencemarkan nama temannya, dia langsung berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan cara memberikan hadiah kepada temannya, tapi sudah arang-arang hendak minyak pula, karena dia masih mencemarkan namanya lagi dengan cara lain." "Dia mencemarkan nama saya di depan teman-temannya, tapi sudah arang-arang hendak minyak pula, karena dia langsung minta maaf dan berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan saya." Peribahasa "sudah arang-arang hendak minyak pula" masih sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari kita. Dalam dunia bisnis, peribahasa ini digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang setelah melakukan kesalahan, langsung berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan klien atau mitranya dengan cara yang kurang alami. Dalam kehidupan sehari-hari, peribahasa ini digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang setelah mencemarkan nama orang lain, langsung berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan cara yang kurang alami.